Setrika di zaman sekarang sudah enak dengan listrik, anda tinggal colok dan tunggu panas lalu menyetrika bisa dimulai. Tidak seperti dulu yang terbuat dari besi yang isinya arang yang perlu dibuat bara agar setrika bisa panas. Beratnya jangan ditanya, belum menyetrika saja keringat akan membasahi tubuh ini, belum lagi kalau bara arangnya habis kita perlu berhenti untuk mengganti dengan arang yang baru.
Sahabatku para suami tercinta, apakah pernah anda meluangkan waktu untuk membantu menyetrika di rumah ? Membantu sang istri yang sudah lelah bekerja mengasuh anak dan melayani kita hampir 24 jam atau istri kita yang sama-sama mencari nafkah dengan sekedar menyetrika. Atau membantu lelahnya sang pembantu kita yang sudah all out membantu kita seharian di rumah. Saya katakan all out. Rasakan kepenatan mereka sekejap dan katakan apa yang terbayang.
Saya pilih kegiatan ini karena anda tidak perlu berbasah-basah ria seperti mencuci baju atau perabotan yang bisa membuat masuk angin setelah terendam beberapa lama di air, atau menyapu yang pasti akan berpindah-pindah tempat atau kegiatan lainnya sebagaimana list rutin pekerjaan istri atau pembantu di rumah.
Ketika pekerjaan mencuci sudah terwakili dengan mesin cuci otomatis, tinggal pekerjaan menyetrikalah yang harus dilakukan dengan manual. Jangan biarkan diri anda tidak mendapat tambahan pahala berpartisipasi aktif dalam kegiatan rumah tangga yang kita yakini banyak berkahnya ini.
Selelah apapun anda, cobalah untuk menyetrika walau sedikit, walau anda mampu untuk membayar pembantu. Biarkan hari ini ego anda bisa terkalahkan oleh niat tulus untuk berbuat sesuatu untuk keluarga walau tidak besar. Jelas, ini hanya bagian kecil dari rutinitas pekerjaan dalam rumah tangga. Jangan diam ketika mental mandiri anda sedikit demi sedikit hilang dari dada anda tidak seperti ketika anda kost dulu atau ketika masih membujang.
Silahkan anda mulai pekerjaan mulia ini untuk sekedar meringankan beban pekerjaan dalam rumah tangga mulai dengan baju anak-anak anda yang kecil, pakaian dalam, kaos, kemeja, celana, rok, blus, blazer dan lainnya. Niatkan yang ikhlas karena Allah swt sehingga pekerjaan ini bisa bernilai ibadah dalam timbanganNya, kalaupun nanti anda mendapatkan bonus dari sang istri tercinta anggap saja berkah membantunya dengan penuh cinta dan keiklasan.
Nikmati keheningan malam selama anda menyetrika selepas pulang kerja dengan segelas teh hangat atau kopi susu sambil anda mendengar tilawah Quran atau musik yang anda sukai di tape kesayangan anda. Rasakan lelahnya orang-orang yang kita cintai membantu kita. Istri, anak, pembantu, ibu mertua, orang tua, tetangga atau siapa saja yang kita angggap berjasa dalam hidup ini.
Sambil menyetrika anda juga bisa menyusun rencana hidup keluarga ke depan, menyusun stategi keuangan di antara kenaikkan harga-harga yang terus membumbung tinggi di sekitar kita. Sambil terus optimis bahwa pertolongan itu datang hanya dari Allah swt.
Sungguh, tak terasa anda sudah menyelesaikan banyak tumpukan setrikaan di rumah. Menyumbang sedikit tenaga bagi kelangsungan kehidupan keluarga. Ritme indah yang anda bangun bersama orang-orang yang anda cintai bersama di rumah.
Saya pernah ditanya kenapa kita masih mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga di rumah. Bukankah sudah ada istri atau pembantu di rumah ? Bukankah kita sudah lelah mencari nafkah? Saya hanya tersenyum menjawabnya, sesungguhnya kita malu terhadap Rasulullah, para sahabat dan salafus shalih yang pasti lebih sibuk dan menderita dalam perjuangannya menegakkan dien ini dan juga mencari nafkah untuk keluarganya namun mereka masih mau meluangkan waktu untuk membantu istri atau pembantunya di rumah. Kita mesti malu sahabat.
Masih ingatkah kita akan sebuah hadist Rasulullah, sesungguhnya yang terbaik dari kalian adalah yang paling sayang pada keluarganya.
Yuk, kita menyetrika yuk.


0 comments:
Post a Comment