Spiga

Makacih Bunda

"Nda, Nda, nenen ...," ups, si kecilku mebangunkanku. Kulirik di jam dinding di ruang tengah. Wah, kok masih jam setengah sebelas. Ternyata jam itu mati kehabisan baterai. Kuraba-raba bantal di sebelahku untuk mencari hp yang biasa kubawa tidur. Sudah jam 1 siang rupanya. Kutengok kembali anakku, Rasyid. Kini usianya sudah dua tahun namun belum juga berhenti nenen.

Aku segera bergerak bangun ketika Rasyid ngompol. Ayahnya juga masih tertidur, aku lupa membangunkannya untuk sholat Jumat.

"Assalamualaikum .." kudengar ada yang mengucapkan salam di luar.
"Wa alaikum salam," ternyata Akh Beka datang.
"Cecenya ada, Bu ?" tanya Akh Beka.
"Oh ada, silakan masuk, maaf sedang tidur, bablas nih ngga sholat Jumat,"

Ayah pun bangun, langsung sholat dzuhur. Rasyid pun ikut bangun sambil memanggil Om, Om, ke akh Beka. Akh Beka tersenyum sambil membalas panggilan Rasyid. Tidak lama ayah pun ikut Akh Beka untuk bersilaturahim ke rumah Ustadz mereka.

Rasyid menangis ingin ikut. Waduh bagaimana ini ? Aku mencoba menenangkannya dengan menjelaskan ayahnya hanya sebentar saja, tidak akan lama. Rasyid membuntutiku ke dapur, ia melihat anggur yang sedang kuletakkan di piring.

"Bunda, mau, mau itu...," ia menunjuk anggur tersebut.
"Ah,pasti hanya diremas-remas aja nih, kan sayang. Tapi kalo ngga dikasih pasti nangisnya kenceng," batinku bicara.

Kuambilkan 2 buah anggur yang masih jadi satu tangkai. Samar kudengar ucapan terimakasih dari mulutnya. Aku tidak begitu menghiraukannya. Ahm ternyata anggurnya dimakan, hanya saja kemudiabn kulitnya dikeluarkan dan dibuang. Rasyid minta lagi dan kuberikan lagi. Kali ini suaranya terdengar jelas.

Ia mengucapkan, "Makacih Bunda," aku menghampiri wajahnya yang kemudian tersenyum.
Aku menjawab, "Kembali sayang.., kamu pintar sekali," ah permata hatiku ini ternyata lebih smart dari yang kusangka. Padahal usianya baru dua tahun.

Rasyid, Bunda mencintaimu, Nak !

0 comments: