Spiga

Belum ada judul*

Aku berjalan dengan pelan, melewati jalan-jalan yang setiap hari kulalui. Ada sawah, gunung di kejauhan, sinar matahari, kicauan burung-burung bernyanyi. Rasanya bahagia sekali. Aku terus melangkah, menuju sebuah rumah. Ya itu adalah rumahku, dimana aku dibesarkan. Aku membuka pintu, di sana banyak sekali yang kulihat hadir. Teman-temanku, ah.. keluargaku tercinta, suamiku yang selalu mendampingiku dan memberiku semangat hidup dan anakku yang berusia 5 bulan sedang menangis minta susu.


Tapi suasananya begitu sunyi, mereka tampak tidak melihat kehadiranku. Aku melihat suamiku menitikkan air mata, hampir sama seperti yang kulihat malam-malam sebelumnya, kala dia sholat tahajud, dia menangis. Tapi kali ini sedikit berbeda dia menangis menunduk ke arah pembaringanku. Siapakah itu ?

Kudekati dan kulihat. Itu adalah diriku, ternyata aku telah tiada, aku telah berbeda alam dengan mereka. Kulihat di sana ada ibuku yang sedang berlinang air mata. Beliau mengeluarkan secarik kertas dan membacakan apa yang dirasakannya atas kepergianku, beliau menyatakan betapa sayangnya beliau padaku. Bapakku juga tampak muram bersedih. Aku tak kuasa menahan tangis dalam hati, orang-orang tercinta merasakan kesedihan dan menceritakan kenangan bersamaku. Teman-teman kantor dan semua. Tidak....aku mencintai kalian semua, dan akupun berbalik keluar, terus berjalan ke arah semula dan sampailah di Learning Center Mega Mendung. Aku kembali, aku masih hidup. Dimana teman-temanku ? Semua ada di sini. Keluargaku? Aku yakin mereka masih menungguku pulang


Bunda
Ditulis sekitar Februari 2005

0 comments: