Hanya ada dua kemungkinan besar jika Jakarta terguyur hujan yang cukup deras dan lama : macet dan banjir. Terlebih lagi di hari kerja begini.
Senin sore pukul 17.25 aku melangkah pulang menuju rumah. Di dalam hati rasanya ingin segera memeluk Rasyid, anakku. Diguyur oleh hujan yang lumayan deras aku tetap melangkah pulang dengan menumpang bus menuju Tangerang. Semoga saja aku bisa shalat maghrib di Kebon Jeruk dulu.
Alhamdulillah, Jakarta kembali macet. Yup, batin ini harus kupaksa untuk bersyukur agar adneralin yang bergejolak tidak membuat sakit kepala dan mimik muka yang bete sehingga setidaknya perjalanan ini bisa dinikmati.
"Pasti ada hikmah, pasti ada hikmah," batinku berujar. Maklum, musim yang datang tak menentu kadang bisa membuat kita tidak siap menerima perubahan keadaan akibat cuaca. Emosi yang kurang stabil, tubuh yang sudah lelah, dan pikiran yang sudah berkecamuk selesai bekerja ditambah macet dan badan yang basah kuyup pasti membuat kita semakin jauh dari bersyukur kepada Allah Swt dan lebih memilih menggerutu sambil mengutuk keadaan. Kali ini aku juga harus berdiri berdesakan karena bus sudah penuh.
Sebagian Jakarta sudah tergenang walaupun masih sebatas mata kaki. Setidaknya bisa kita bayangkan jika Jakarta terguyur hujan tak henti selama hampir 2 hari seperti yang terjadi sekitar 2 tahun lalu. Sempat terbayang di kepalaku, waktu itu Jakarta dan sekitarnya yang mengalami banjir seperti lumpuh. Namun, kader-kader dan para simpatisan dari sebuah partai dakwah telah banyak mengajarkan bagaimana menolong saudara-saudara seiman dan sebangsa mereka yang mengalami musibah kala itu. Tanpa pamrih, hanya iklas dan kasih sayang yang terpancar dari sikap dan tingkah mereka yang rela berjibaku menolong para korban banjir. Semoga mereka semua semakin istiqomah, doaku yang menjalar dalam darah ini.
Segala puji bagi Engkau ya Allah, jalan raya dari Harmoni menuju Tomang bergerak dengan sangat pelan dan lambat, padat merayap mungkin bahasa penyiar radionya. Kukira-kira bus kami bisa berjalan setelah hampir 15 menit diam tak bergerak. Lalu diam kembali, begitu seterusnya. Ternyata beberapa perempatan jalan di depan kami membuat preman dan anak jalanan beralih profesi menjadi juru parkir atau 'polisi cepek' sementara. Mobil mana yang bisa memberi mereka imbalan, akan segera mereka beri kesempatan untuk lewat. Tak urung, hal ini yang membuat macet juga.
Jam sudah menunjukkan pukul 18.45 dan mobil masih saja berada di daerah Cideng dan aku belum shalat maghrib ! Ah, harus kucari segera musholla atau masjid. Hup, aku turun dan sempat bertanya pada ibu warung dimana letak masjid terdekat.
Setelah menyebrang dan bertanya beberapa kali akhirnya aku menuju masjid terdekat. Namun, jauh dari yang kuduga gang kecil menuju masjid lumayan gelap dan lama-lama aku rasakan celana ini semakin membasah. Gang tersebut banjir seukuran betis. Tak kulihat banyak orang di gang itu karena memang masih hujan lumayan deras. Sebagian besar warganya pasti lebih memilih tinggal di rumah. Syukurlah aku bisa menemukan masjid itu yang posisinya cukup tinggi sehingga tidak terendam oleh banjir dan segera kulaksanakan shalat.
Selesai shalat segera aku melangkah pulang dan tentunya melewati genangan banjir yang tadi. Sekilas kulihat di pinggiran gang banjir itu ibu penjual nasi dan 2 orang pelanggannya sedang asyik mengobrol. Seperti tak terjadi apa-apa mereka dengan nyaman melaksanakan aktifitasnya di tengah banjir kecil itu. Sungguh aku malu dengan diri ini yang kadang kala cengeng menghadapi pelik kehidupan ini.
Sayup kudengar suara bocah perempuan yang berkata pada teman yang lainnya, "Kita main di banjir yang sebelah sana yuk !" Dan kulihat wajah mereka yang ceria.
******
"Jo, baru kali ini gue bersyukur kalo ada macet. Gue bisa ngamen beberapa kali di banyak bus. Lumayan penghasilan gue, nih. Dulu mah, boro-boro bersyukur, yang ada pasti kita dihukum sama guru BP karena telat datang ke sekolah," ungkap Jenggot teman lamaku, suatu waktu ketika dia main ke rumah sekitar 3 tahun yang lalu.
Teman lamaku itu datang sekedar silaturahmi dan melanjutkan 'curhat' atas kisah kehidupannya yang sempat terputus di telpon siang itu. Dari cerita yang kutangkap, dia sangat butuh nasihat dan pendengar sejati atas semua ceritanya. Seperti seorang yang bijak, dengan seksama aku mendengar semua ceritanya.
Jenggot adalah teman satu sekolah denganku, kita sama-sama menganggur setelah lulus. Dan kali ini aku baru tahu kalau dia sempat mengamen. Lebih dari tiga bulan katanya dia sudah melakukan pekerjaan tersebut. Namun karena gitar yang biasa dipakai rusak tertabrak bajaj, dia terpaksa berhenti.
"Gue, mau nuntut gimana, kasihan tukang bajaj," jelasnya ketika aku tanya kenapa tidak minta ganti atas kerusakan gitarnya.
Pembicaraan kami sudah meluas kemana-mana, namun yang kutangkap teman lamaku ini agak sedih karena teman kami satu sekolah yang lain tidak ada yang menjalin silaturahmi kembali. Banyak yang sudah kerja, namun mereka lupa membantu teman lainnya yang masih menganggur. Setidaknya memberikan informasi lowongan atau alamat-alamat kantor yang bisa dikirimi lamaran.
Sembari kuselingi dengan beberapa kalimat tausiah, dengan hati-hati aku sarankan kepadanya agar melamar kerja di tempatku bekerja dan tempat yang lain yang kebetulan membutuhkan teknisi yang latar belakang pendidikan sesuai dengan yang kami miliki
Alhamdulillah, Jenggot sempat bekerja di Surabaya di sebuah perusahaan telekomunikasi namun berhenti karena perusahaannya disinyalir akan mengalami kebangkrutan. Sekarang dia satu kantor denganku walau sekarang beda lokasi kerja. Kini dia sudah berkeluarga dan mempunyai anak.
******
Alhamdulillah aku masih diberikan kesempatan untuk menikmati macet, banjir, menjadi pengangguran, dan keadaan lainnya. Semoga diri ini semakin pandai bersyukur dan bijak mengambil setiap hikmah yang berserakan di setiap keping kehidupan. Semoga.
Wallahu a'lam

