Spiga

[Resensi] Memberangus Keadilan



Setelah mencari tahu siapa itu Mumia Abu Jamal akhirnya saya bisa menemukan bukunya yang diterbitkan kembali oleh Profetik (Mizan Group). Aslinya buku ini berjudul All Things Censored yang memuat beberapa essai Mumia yang ditulisnya di blok hukuman mati. Mumia dijatuhi hukuman mati atas kesalahan yang tidak dilakukannya.

Setidaknya dengan membaca buku ini saya pribadi bisa banyak tahu sebenarnya hukum dan keadilan di Amerika Serikat sana, bau rasisme yang masih kental dan hukum yang masih memihak si pemilik modal. Mungkin bisa dibilang sama di negeri ini juga walau pasti ada beberapa perbedaan.

Walau judul buku ditambahi "Kisah Seorang Narapidana Muslim Kulit Hitam di Amerika" namun tidak banyak ditemui pandangan-pandangan Mumia tentang agamanya ini. Buat yang alergi dengan nama Islam, Anda masih bisa membacanya tanpa prasangka buruk. Hanya beberapa kata tentang Al Quran dan essai tentang Malcolm X yang mungkin masih ada hubungannya dengan kata-kata "muslim".

Sosok Mumia saya kenal lewat penggalan lirik dari Zack la Rocha, vokalis Rage Against The Machine, band yang kini sudah bubar dan berganti wujud menjadi Audioslave dengan vokalis baru, Chris Cornell mantan vokalis Soundgarden.

Beberapa essai saya sangat suka, diantaranya adalah essai tentang Malcolm X dan beberapa pejuang hukum di sana menurut pandangan Mumia. Semoga Allah swt memudahkan ujian ini bagi Mumia dan menunjukkan kebenaran atas kasus yang dihadapinya.

Selamat membaca !

Ibu

"Ribuan kilo jalan yang kau tempuh, lewati rintang untuk aku anakmu
ibuku sayang masih terus berjalan, walau tapak kaki penuh darah penuh nanah"

Selalu saja ada atmosfir beda yang membuat haru setiap mendengar lagu ini. Lagu yang selalu berhasil membuat hati ini terkoyak setiap mendengar dan meresapi bait-bait liriknya. Kadang membuat hidung ini kembang kempis menahan haru, lalu air mata diam-diam dengan malu, menuruni pipi ini. Kadang membuat ingin menelpon ibu di rumah atau segera mendekap ibu tersayang, lalu menangis sejadi-jadinya di pangkuannya. Demi Allah, aku tak pernah bisa membalas jasa-jasanya, oh Ibu sayang.

Masih teringat dan dan tak pernah lekang kepingan memori mengingat waktu itu. Dua puluh tahun lalu.

"A, sudah tidur sana, nanti sekolahnya kesiangan" ujar Ibu yang masih mengupas kulit ubi untuk digoreng dengan tepung. Aku yang terbangun karena ingin pergi ke kamar kecil akhirnya menuruti permintaan Ibu karena mata ini memang masih mengantuk. Kadang kala aku tertidur di tikar yang terhampar di dapur sambil memperhatikan kedua orangtuaku sibuk memasak.

Ibu yang tegar dan ikhlas membantu Bapak demi perekonomian keluarga dengan menjual gorengan selalu membuat aku kagum dan haru. Bapak yang bekerja di sebuah pabrik kawat di bilangan Tangerang, di pinggir jalan Daan Mogot selalu menyempatkan mengajari kami baca tulis dan menghitung. Ah, walau kadang kala Bapak mengajar dengan keras tapi hasilnya sudah sepantasnya aku banyak berterimakasih kepadanya. Ketika ucapan Bapak sudah keras karena aku tampak lamban berpikir, biasanya Ibu "menyelamatkan" dengan mengajakku belanja ke warung Mpok Wati. Sungguh paduan sempurna kasih sayang mereka.

Bapak kulihat masih menggoreng beberapa ubi dan pisang di penggorengan dengan minyak panas di atas kompor minyak tanah merek Butterfly untuk dijual esok hari. Hawa dapur di sepertiga malam terakhir ini menjadi hangat. Rumah kontrakan yang masih berdinding bilik bambu menjadi saksi bisu perjuangan orangtuaku. Pagi hari biasanya Ibu menjual dengan menitipkan ke warung Mpok Wati di depan musholla di kampung kami.

Siang hari setelah pulang dari sekolah, biasanya aku menjadi agen pengintai penjualan gorengan Ibu di warung sambil bermain di depan musholla. Kalau banyak yang terjual langsung meluncur kalimat hamdalah berkali-kali dari bibir ini dan senyum-senyum sendiri sambil tetap bermain. Kalau sisa gorengan masih banyak aku masih yakin bahwa masih ada sore dan malam hari. "Semoga banyak yang laku terjual," doaku diam-diam dalam hati.

"A, tolong lihat sisa gorengan di warung si Mpok," pinta Ibu di setiap petang selepas aku mengaji atau shalat isya di musholla

Segera aku berlari ke warung dan mengintai sisa gorengan di warung. Satu, dua, tiga, kuhitung dengan hati-hati tanpa sepengetahuan Mpok Wati atau keluarganya, biasanya aku juga mengendap-endap juga supaya tidak ketahuan. Kalau tersisa sedikit, aku segera berlari pulang ke rumah sambil tersenyum memberitahukan kepada Ibu. Jika masih sisa banyak, kadang dengan wajah murung aku melapor ke Ibu. Biasanya Ibu langsung menghiburku, "Gapapa, kan masih ada besok. Rezeki Allah masih banyak A,"

"seperti udara kasih yang engkau berikan, tak mampu ku membalas, ibu...."
"ingin kudekap dan menangis di pangkuanmu, sampai aku tertidur, bagai masa waktu kecil dulu"
"lalu doa-doa baluri seluruh tubuhku, dengan apa kumembalas, Ibu.."

Menyetrika yuk !

Setrika di zaman sekarang sudah enak dengan listrik, anda tinggal colok dan tunggu panas lalu menyetrika bisa dimulai. Tidak seperti dulu yang terbuat dari besi yang isinya arang yang perlu dibuat bara agar setrika bisa panas. Beratnya jangan ditanya, belum menyetrika saja keringat akan membasahi tubuh ini, belum lagi kalau bara arangnya habis kita perlu berhenti untuk mengganti dengan arang yang baru.

Sahabatku para suami tercinta, apakah pernah anda meluangkan waktu untuk membantu menyetrika di rumah ? Membantu sang istri yang sudah lelah bekerja mengasuh anak dan melayani kita hampir 24 jam atau istri kita yang sama-sama mencari nafkah dengan sekedar menyetrika. Atau membantu lelahnya sang pembantu kita yang sudah all out membantu kita seharian di rumah. Saya katakan all out. Rasakan kepenatan mereka sekejap dan katakan apa yang terbayang.


Saya pilih kegiatan ini karena anda tidak perlu berbasah-basah ria seperti mencuci baju atau perabotan yang bisa membuat masuk angin setelah terendam beberapa lama di air, atau menyapu yang pasti akan berpindah-pindah tempat atau kegiatan lainnya sebagaimana list rutin pekerjaan istri atau pembantu di rumah.

Ketika pekerjaan mencuci sudah terwakili dengan mesin cuci otomatis, tinggal pekerjaan menyetrikalah yang harus dilakukan dengan manual. Jangan biarkan diri anda tidak mendapat tambahan pahala berpartisipasi aktif dalam kegiatan rumah tangga yang kita yakini banyak berkahnya ini.

Selelah apapun anda, cobalah untuk menyetrika walau sedikit, walau anda mampu untuk membayar pembantu. Biarkan hari ini ego anda bisa terkalahkan oleh niat tulus untuk berbuat sesuatu untuk keluarga walau tidak besar. Jelas, ini hanya bagian kecil dari rutinitas pekerjaan dalam rumah tangga. Jangan diam ketika mental mandiri anda sedikit demi sedikit hilang dari dada anda tidak seperti ketika anda kost dulu atau ketika masih membujang.

Silahkan anda mulai pekerjaan mulia ini untuk sekedar meringankan beban pekerjaan dalam rumah tangga mulai dengan baju anak-anak anda yang kecil, pakaian dalam, kaos, kemeja, celana, rok, blus, blazer dan lainnya. Niatkan yang ikhlas karena Allah swt sehingga pekerjaan ini bisa bernilai ibadah dalam timbanganNya, kalaupun nanti anda mendapatkan bonus dari sang istri tercinta anggap saja berkah membantunya dengan penuh cinta dan keiklasan.

Nikmati keheningan malam selama anda menyetrika selepas pulang kerja dengan segelas teh hangat atau kopi susu sambil anda mendengar tilawah Quran atau musik yang anda sukai di tape kesayangan anda. Rasakan lelahnya orang-orang yang kita cintai membantu kita. Istri, anak, pembantu, ibu mertua, orang tua, tetangga atau siapa saja yang kita angggap berjasa dalam hidup ini.

Sambil menyetrika anda juga bisa menyusun rencana hidup keluarga ke depan, menyusun stategi keuangan di antara kenaikkan harga-harga yang terus membumbung tinggi di sekitar kita. Sambil terus optimis bahwa pertolongan itu datang hanya dari Allah swt.

Sungguh, tak terasa anda sudah menyelesaikan banyak tumpukan setrikaan di rumah. Menyumbang sedikit tenaga bagi kelangsungan kehidupan keluarga. Ritme indah yang anda bangun bersama orang-orang yang anda cintai bersama di rumah.

Saya pernah ditanya kenapa kita masih mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga di rumah. Bukankah sudah ada istri atau pembantu di rumah ? Bukankah kita sudah lelah mencari nafkah? Saya hanya tersenyum menjawabnya, sesungguhnya kita malu terhadap Rasulullah, para sahabat dan salafus shalih yang pasti lebih sibuk dan menderita dalam perjuangannya menegakkan dien ini dan juga mencari nafkah untuk keluarganya namun mereka masih mau meluangkan waktu untuk membantu istri atau pembantunya di rumah. Kita mesti malu sahabat.

Masih ingatkah kita akan sebuah hadist Rasulullah, sesungguhnya yang terbaik dari kalian adalah yang paling sayang pada keluarganya.

Yuk, kita menyetrika yuk.