Spiga

Niat yang di kabulkan....

Duh pagi ini aku kesiangan lagi..

Ku lirik jam dinding sudah menunjukkan pukul 6 pas,wow buru-buru aku masuk ke kamar mandi. Tapi stttt..jangan sampai berisik takut Rasyid bangun.Aku menutup pintu kamar mandi dengan pelan-pelan. Bisa kacau nih waktu mandiku di teriaki pertanyaan tiada henti dari anakku itu. "Bunda sedang apa?" dan seterusnya.

Ah, akhirnya selesai juga, aku segera berpakaian dan merapihkan tas. Kulihat ada lembaran dari Rumah Zakat di dalam tasku. Aku tak tahu kalau itu sebenarnya titipan untuk rohis,habis tiada pesan apa2 didalamnya.

Kubaca lembaran tersebut, Superqurban. Ah, ayah ini seperti menyindirku untuk segera berqurban. "Aduh Yah, bukan maksudku tidak ingin qurban, tapi keadaan ekonomi kita yang sungguh sedang sulit membuatku pesimis tidak bisa qurban tahun ini. Gali lubang tutup lubang tiap akhir bulan." Tapi walupun begitu aku tetap menyempatkan membaca lembaran tersebut. Isinya begitu memikat hati."Ya Alloh seandainya saja aku ada rizky lebih tahun ini aku pasti akan berqurban untuk saudara-saudaraku," Kumasukkan lembaran itu kembali ke tas kerjaku.

Hari berganti hari hingga aku tidak lagi memikirkan qurban. Tapi di kantorku aku kebagian tugas koordinir qurban, jadi terpikir lagi soal qurban. Rabu 20 Desember 2006, siang ini aku lelah sekali. Pekerjaan di kantor tiada henti. Besok gajian tapi segera habis untuk bayar cicilan. Bagaimana untuk ongkos minggu depan yah?. Otakku terus saja memikirkan kelanjutan hari-hari ke depan. Untuk ongkos transportasiku dan suamiku, juga untuk susu anakku. Sedangkan gaji suamiku baru akhir bulan. Duh,duh.

Telepon berdering, "Jeung Retno, ayo dong ikut sharing session sekarang!" Akhirnya aku beranjak juga. Dengan sedikit mengantuk kuikuti sharing session tentang DHL. Jam 4 sore baru selesai. Aku kembali kemejaku. Kubuka email, tap, mataku tertuju pada email kiriman dari suamiku. Apa ini, kabar gembira? Aku mulai membacanya dan wah betapa senangnya hatiku. Lenyap sudah pusingku, ternyata bulan ini dapat bonus. Duh ya Allah alhamdulillah. Ku sms suamiku, "ayah kita bisa qurban tahun ini,". Itulah yang pertama kali terbesit dihatiku. Aku segera beres-beres meja untuk segera pulang. Wah, jalanan macet banget...

Ya Allah aku ridho bila perjalananku ini melelahkan. Di tengah jembatan penyebrangan ada 2 orang pengemis aku segera mengeluarkan uang seribuan masing-masing untuk mereka. Mungkin aku ini pelit, tapi hanya lembaran uang itu yang ada dibagian luar tasku. Aku sedikit berlari-lari kecil sambil melihat biskota yang lewat. Ahaa, itu dia bus 119 jurusan Kampung Melayu - Tangerang. Akhirnya aku naik walaupun harus berdiri. Tapi kemudian di Komdak banyak penumpang yang turun. Akhirnya aku dapat duduk :)

Ya Allah betapa nikmat rizky yang Engkau berikan, uang itu, nikmatnya duduk saat lutut ini sedang lemah, semua engkau berikan dengan sangat tepat. Terima kasih ya Allah atas semuanya. Betapa Engkau banyak memberi kemudahan untuk mewujudkan niat yang baik.

Dari Bunda Rasyid